Showing posts with label Cerita Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Cerita Dewasa. Show all posts

Cerita Dewasa | Permintaan Sahabatku Untuk Hamili Istrinya

Posted by dedot on Wednesday, 3 July 2013

Pada suatu pagi aku menerima sepucuk surat. Ternyata surat itu dari sahabatku Nasem yang tinggal di Manado. Isinya dia mengundangku datang ke sana untuk berkangen-kangenan. Maklum telah puluhan tahun kami terpisah jauh. Nasem di Minahasa, Sulawesi Utara dan aku tetap di Malang, Jawa Timur.

Dalam suratnya, Nasem menceritakan pula tentang keadaan Hamid (samaran, sahabat kami pula) di Tewah. Katanya, ia juga kangen padaku.

Yah, sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Kami adalah tiga sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki "Three Brothers". Cuma bedanya, Nasem dan Hamid sukses di kariernya. Kini Nasem menjadi Kepala Cabang Dealer Mobil/Motor di Minahasa dan Hamid menjadi pedagang antar pulau dan tinggal di Tewah. Sedang aku tidak. Tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.

Sayangnya, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Nasem belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Nasem tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.

Kembali ke surat Nasem. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Nasem?

Dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.

Lalu, setelah 5 hari 5 malam berlayar, aku pun sampai di tujuan. Di situ aku sudah dijemput oleh Nasem dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. "Nduutt.., Genduutt..!!" Teriak mereka. Nasem masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Nasem Dan Hamid.

Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. Acara kangen-kangenan berlanjut sampai di rumah. Rumah Nasem besar, sedang dipugar dan mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah.

Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Nasem dengan istrinya Sari memanggilku ke ruang tamu. Mulailah mereka membicarakan soal "bantuan" itu.
"Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?" tanyaku.
Kulirik, Nasem menggelengkan kepala.
"Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga diberi momongan. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari," tutur Nasem, panjang-lebar. Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi.
"Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak," tuturnya lagi dengan jelas.
"Hah.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu," tanyaku, penasaran.

"Yah.. begitulah maksudku," jawabnya, membuat aku kian tak mengerti.
"Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan 'Deddy Coubuzier' atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?" ucapku.
"Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu ini memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak. Sudah? Jelas tidak?" ucap Nasem merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku.
"Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Sari menyetujuinya?" tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Nasem mengadopsi anak saja.
Menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.
"Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?" ucap Nasem.
"Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut.." ucap Sari pelan.

Kini aku paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Nasem pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.

Tapi Nasem terus mendesakku.
"Yah.. bagaimana ini ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?" kataku.
"Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu," ucap Nasem meyakinkan.
Aku pun tanpa sadar berucap, "Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?" tanyaku.
"Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan," ucap Nasem dengan arif.

Selanjutnya dengan kesepakatan dan restu bersama, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Nasem sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan.

Tepat pukul 22:00 WITA, aku dipersilakan Sari masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Nasem dan Sari membimbingku masuk. Habis itu, Nasem pun keluar, meninggalkan aku dan Sari berdua di kamar.

"Sari, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?" tanyaku.
"Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya." ucapnya manja.
"Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan 'mengobok-obok' tubuhmu yang mulus itu."
"Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas.." ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.

Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.
"Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?" tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.
"Oh itu pasti Mas Nasem sendiri kok Mas Ndut," jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.
"Oh begitu!" ucapku.
"Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?" ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.

Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Sari tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu..
"Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring.." ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Sari mulai beraksi.
"Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut." tangan Sari segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Sari. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.

"Ahh.. ahh.. ohh.." aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Sari yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?! Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Sari mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Sari berdiri dengan tubuh montoknya. Ohh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku."Malaria"-ku yang sempat sembuh waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?

Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Sari bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut.

Esoknya rupanya Sari melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Nasem.
"Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan." ucapnya.
Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.

Pukul 22.00 WITA, Nasem meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, "Ayo Mas Ndut kita tidur yuk," ucap Sari manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap. Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap.

Kami masih duduk berhadapan. Lalu Sarilah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.

Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

"Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut," bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba.. "Slepp.." masuklah penisku ke dalam sangkarnya.

Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Sari mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut.

Setiap aku hampir sampai ke puncak, Sari selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.

Selang beberapa saat, Sari ganti di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya. Lemaslah tubuh Sari dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, "Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Nasem)".

Selesai tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Sari. Sari memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu bersambung dari bawah.

Tak terasa 'pekerjaan' yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.
"Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu," kata Sari pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Nasem masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya 'bersabar' barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.

Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Nasem membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!

"Oh Ndut, istriku hamil!" katanya gembira.
Kiranya 'pekerjaanku' tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Sari, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Nasem, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Nasem pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.

Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya.

Delapan bulan kemudian aku menerima surat dari Nasem bahwa 'anaknya' telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. "Ah syukurlah," gumamku.

Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya.



TAMAT



sumber
More about → Cerita Dewasa | Permintaan Sahabatku Untuk Hamili Istrinya

Cerita Dewasa | Chating Berbuah Nikmat

Posted by dedot

Pada hari Sabtu, aku masuk ke sebuah warnet dan langsung meng-klik mIRC, program chatting. Aku sengaja memakai nama yang agak 'menjurus' porno, lick_your_. Nama ini diilhami oleh sebuah film VCD porno yang kutonton beberapa waktu lalu, film tentang oralseks dan semacamnya. Seperti biasa, yang menyapa selalu nickname pria, dan sesungguhnyalah hal itu menyebalkan, maka nickku kuganti, M_want_lick. Tetapi setelah lebih dari 30 menit, tak satupun ada nick yang menyapaku, ah, sialan memang. Akhirnya aku iseng-iseng mengklik beberapa nick yang mungkin kepunyaan perempuan. Tetapi tak satupun membalas. Ah, barangkali mereka ngeri melihat nickku. Tetapi aku tak putus asa, aku terus-menerus mencari hingga setelah hampir satu jam barulah ada balasan dari nick, julia_^

Dan dimulailah pembukaan klise yang membosankan sebetulnya, seperti"Hi, asl? Kul/ker?, Kul di mn?, Di mana nih?, Lagi ngapain? Nama?", Dan semacam itu.
Tetapi pada akhirnya dia bertanya "Eh, Nickmu kok aneh?".
Karena pada dasarnya aku iseng saja memakai nick-ku itu, maka kujawab sekenanya"Ya itu menunjukkan keinginanku dong."
Lalu muncul emoticon tersenyum di layar komputer. Sejurus kemudian percakapan beralih ke soal seks.

Nick yang mengaku bernama Julia ini katanya f 20 yk, masih kul dan belum pernah berhubungan seksual. Dari percakapan yang porno-porno ketahuan ternyata julia ini juga ingin mencoba merasakan orgasme dengan pria, namun katanya dia takut kalau perawannya hilang. Dia mengaku hampir setiap hari bermasturbasi, dan pernah sekali melakukan phonesex dengan seseorang. Aku jadi tertarik.
Lantas dengan iseng-iseng kubilang kepadanya"Bagaimana kalau kubantu bermasturbasi tanpa ml?".
Pada mulanya dia ragu-ragu, tetapi, yang mengejutkanku, adalah jawabannya"Boleh? Kalau kamu mau.".
Seketika aku merasa ada getaran di perutku, ada sedikit birahi timbul karena pikiranku teringat kembali adegan VCD porno yang kutonton beberapa hari yang lalu. Singkat cerita, kami mengadakan semacam negosiasi perjanjian, dan saling bertukar nomer HP. Keputusannya adalah kami akan bertemu Minggu sore jam 3 di mall Malioboro.

Pukul tiga sore hari, di sebuah resto cepat-saji, aku duduk menunggu perempuan yang mengaku bernama Julia. Sebenarnya aku merasa sedikit minder, karena barangkali aku tak terlalu charming, tak terlalu tegap, hanya lelaki biasa saja. Aku bertanya-tanya, apakah aku akan bertemu dengan sosok secantik bidadari, dengan pakaian ketat, payudara menonjol, berkulit putih mulus dengan bibir sensual? Ataukah aku akan bertemu dengan gadis gemuk, dengan bedak tebal dan rambut kriting? Hati dan pikiranku tegang membayangkan beragai kemungkinan penampilan dan wajah si perempuan yang mengaku bernama Julia.

"Budi", sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.
Hatiku berdesir, sedikit panik. Aku tiba-tiba merasa takut ditolak, atau dilecehkan, dan kepala ini rasanya berat sekali untuk menoleh. Untunglah, perempuan itu lantas duduk di depanku. Ah, wanita yang ada didepanku ini ternyata tak segawat yang kubayangkan. Dia perempuan biasa, berkulit seperti kebanyakan dari kita, sawo matang, dengan rambut sebahu. Wajahnya biasa saja, payudaranya juga ukuran normal -mungkin ukuran 34. dan tubuhnya juga tak bahenol-bahenol amat. Tetapi karena dia memakai rok selutut yang ketat dan baju yang juga ketat, maka memandang lekuk tubuhnya saja sudah cukup untuk membuat birahi naik. Seperti biasa, selalu ada basa-basi dalam setiap percakapan.

"Bagaimana kabarmu? Sudah lama? Mau minum dulu?"
Dan beberapa basa-basi lainnya. Kami pesan minum. Lalu lima belas menit kami masuk ke pokok pembicaraan.
"Masih ingat apa yang kita bicarakan kemarin di chatting?", tanyaku.
"Iya, mm, kamu serius kan?", tanyanya sambil menatapku.
sesungguhnyalah aku ragu-ragu, tetapi ada dorongan yang membuatku menjawab"Ya aku serius."
"Terus, di mana?", tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Aku benar-benar tak punya tempat dan tak punya pengalaman sama sekali menghadapi keadaan seperti ini. Tetapi aku ingat bahwa di lokasi Parang Tritis ada beberapa losmen yang membebaskan penyewanya untuk melakukan apa saja.
"Bagaimana kalau ke pantai, sekalian jalan-jalan?", aku menawarkan kepadanya.
"ke Parang Tritis? Naik apa?"
"Motor"
Dia tercenung sejenak, lalu dengan tersenyum dia menganggukkan kepalanya.

Empat puluh menit kemudian kami sampai di pantai. Setelah memesan kamar, kami lantas berjalan-jalan ke pantai. Berbicara banyak hal, seperti layaknya orang pacaran. Kadang-kadang saling menggoda, tertawa, mencubit dan memeluk, atau bermain air. Pada pukul 6 sore kami lelah bercanda, dan memutuskan untuk ke kamar losmen. Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Meski mentari telah terbenam, namun cahayanya masih tersisa sedikit hingga membuat lanskap pantai menjadi samar-samar. Kami berjalan berdempetan, tangannya memeluk pinggangku dan aku merengkuh bahunya. Tetapi kami hanya membisu, barangkali tenggelam dalam khayalan masing-masing. Sesampainya di kamar aku segera mandi. Setelah selesai gantian dia yang mandi. Pada saat ini aku memaki diriku sendiri"Bodoh Kenapa tak mandi bersama". Ah, sudah terlanjur,

Pintu aku kunci. Julia duduk di pinggir ranjang sambil menyisir rambutnya yang basah terurai. Aku memandang tubuhnya, yang masih berpakaian lengkap. Tetapi roknya yang selutut sedikit tersingkap. Ah, barangkali benar kata sebagian orang, baju yang tidak terlalu terbuka, yang hanya tersingkap, selalu lebih menggairahkan. Aku melirik ke pahanya yang mulus, karena roknya sedikit tersingkap ke atas. Pelan-pelan birahiku timbul. Aku pun mendekatinya. Lalu duduk di sampingnya. Dia berhenti menyisir rambut.
Sambil berbisik aku katakan kepadanya"Bagaimana kalau kita wujudkan khayalan kita kemarin?"
Dia tersenyum, menatapku lekat-lekat, lalu memejamkan matanya dengan dagu sedikit menengadah, Menurutku, inilah salah satu daya tarik perempuan, ekspresi wajahnya yang pasrah dan penuh harap selalu menyenangkan untuk dipandang. Aku tak langsung mendekapnya, hanya menikmati seluruh wajahnya yang sedikit tengadah, memandagi lekuk-lekuk bibir dan dagunya, sampai akhirnya aku usap bibirnya dengan jemariku.

Julia hanya membuka matanya sedikit, tetapi masih diam saja. Namun aku mendengar nafasnya sedikit memburu. Aku mulai memegang pahanya dengan tangan kiri, kuelus-elus ke atas sambil menyingkap roknya. Pada saat yang sama Julia juga memegang leherku, kali ini bibirnya sedikit di buka, dan lidahnya tampak bergerak-gerak di antara kedua giginya. Jari tanganku kumasukkan ke sela-sela bibirnya, dan dia mengulumnya. Kali ini tangan kiriku sudah merayap sampai ke pangkal paha, dan aku mulai mendaratkan bibirku di dahinya. Kemudian aku mulai mencium kedua matanya, pipinya, dan kemudian beralih ke daun telinganya. Kata orang telinga perempuan adalah salah satu titik sensitif, maka aku mencoba mengelitiknya. Kali ini aku menjilati belakang telinga. Mencium dan menghisapnya, kini aku mulai mendengar nafas Julia menjadi tak teratur. Aku lalu menelusuri lehernya dengan lidahku, kemudian lidahku merayap ke dagu, dan akhirnya aku mencium bibirnya. Lidah Julia sedikit menulur ketika aku hendak melumat bibirnya, karena itu aku lantas sentuhkan lidahku dengan lidahmnya, lalu menghisap lidahnya. Julia membalas dengan semangat dan lantas aku melumat semua bibirnya. Pada saat yang sama kedua tanganku mulai membuka pakaiannya. Setelah terbuka, aku lepaskan ciumanku, dan tanganku mulai merayap dari pusar, ke perut, dan akhirnya ke dadanya. Julai hanya diam menatap tanganku yang mengusap-usap semua bagian perut hingga dadanya, lalu dia membuka tali bra-nya. Kali ini payudaranya sama sekali tak tertutup.

Aku mulai mengelus-ngelus payudaranya, dan sesekali meremasnya. Sekarang Julia mulai terdengar suara lirihnya. Aku lalu membuka kaosku, lalu aku tarik tubuhnya dan kamipun berpelukan bersentuhan kulit secara langsung. Rasa hangat dan nyaman menjalar dari perut, dada dan ke seluruh tubuhku ketika kulit kami bersentuhan. Aku merasakan empuknya payudara Julia sambil kembali berciuman, kali ini ciuman kami lebih bergairah, dan Julia mulai terengah-engah, begitu juga aku. Aku menciumnya sembari terus meremas payudaranya, sementara tangan julia mengusa-usap punggungku.

"Ah, Mas, ohh.", hanya desahan lirih itu yang kini terdengar sayup ketika aku mulai menjilati leher dan menciuminya.
Aku mencium bau kewangian sabun di tubuhnya. Jilatanku terus menurun hingga akhirnya sampai di belahan payudaranya. Aku kemudian mengulum payudaranya bergantian, sembari meremas-remas pantatnya. Julia terus mendesah, dan suara rintihan itu membuatku bersemangat. Lalu aku rebahkan tubuhnya dengan pelan di ranjang. Aku mulai merayap naik menindihnya, dan mulailah aku mencoba mempraktekkan ritual mandi kucing yang kutonton kemarin.

Pertama aku ulangi lagi dengan melumat bibirnya, kemudian menciumi leernya, terus ke bahunya, dan kemudian lidahku merayap ke lengannya, dan ketiaknya. Pada saat yang sama tanganku mengusap seluruh tubuhnya. Julia menggeliat dan mendesah setiap kali tanganku meremas payudaranya atau aku menekankan penisku yang masih tertutup celana ke vaginanya yang tertutup rok. Lidahku terus bergerilya menyapu seluruh tubuh, kedua tangan, dan payudaranya. Dan setiap kali aku menilati putingnya, erangan Julia semakin sering terdengar dan dia kerap menahan nafas, tangannya kadang-kadang meremas-remas kepalaku. Lidahku masih merayapi dadanya selama beberapa menit, lalu aku turun untuk menyapu perut dan pusarnya dengan lidahku, pada saat itulah aku mulai membuka rok Julia, dan kini Julia tinggal memakai celana dalam. Akupun membuka celanaku,

Aku tak langsung membuka celananya, tetapi menciuminya dan menggesek-gesek gundukan vaginanya dengan hidungku, kadang-kadang kutekan-tekan dengan daguku, sementara tanganku merayap ke atas meremas kedua payudaranya.
"Ohh, Mass, buka Mas,", katanya memohon.
Aku pelan-pelan memelorotkan celana dalamnya. Setelah dia telanjang bulat, aku lalu mulai mengusap-ngusap vaginanya dengan tanganku. Aku teus menciumi perutnya lalu aku mulai menjilati pusar, terus turun ke daerah rambut kemaluannya, dan akhirnya ke bagian atas vaginanya. Julai mendesah saat aku mencium lembut permukaan vaginanya. Aku lalu bentangkan kedua kakinya, hingga vaginanya merekah. Aku lalu menenggelamkan kepalaku ke vaginanya. Aku jilati vaginanya dari atas ke bawah, kiri kanan, kadang melumatnya atau menghisapnya, sementara itu cairan dari vaginanya semakin deras. Aku lalu rekahkan vaginanya, dan dengan ujung lidahku aku mulai menjilati klitorisnya. Mula-mula pelan, dan pada jilatan pertama Julia langsung mengangkat kedua pantatnya sambil mengerang tertahan, lalu sambil kuangkat sedikit pantatnya, aku mulai melumat semua bagian vaginanya, menjilati di daerah antara anus dan vagina, dan mengisap klitorisnya. Kedua pahanya menjepit kepalaku, dan aku semakin cepat menjialti vagina dan klitorisnya sambil meremas pantatnya.

"Ohh, aa, hh.", suara seperti itu terus keluar dari mulut Julia, hingga pada akhirnya Julia tiba-tiba menekankan vaginanya ke mukaku, dengan tubuh bergetar, kedua tangan Julia mencengkeram erat rambutku dan pahanya ditekankan kuat-kuat menjepit kepalaku, dan aku tahu Julia sedikit lagi akan orgasme. Aku percepat dan perkuat isapan dan jilatanku, dan akhirnya Julia menggelinjang tak terkendali, dan mengerang sedikit keras. Dia orgasme, Lalu tubuhnya terhenyak di ranjang. Aku bangkit dan memandang wajahnya yang berkeringat dan nafasnya masih tersengal-sengal, tetapi dia tampak tersenyum."Gantian ya", kataku memohon, sebab penisku sudah sedemikian tegangnya di celana dalamku.
Dia mengangguk pelan. Pada mulanya dia hendak bangkit, tetapi kucegah.
"Jangan, Kau berbaring saja, turuti kataku."

Aku pun membuka celanaku. Julia hanya menatap pada penisku yang sedang tegang. Lalu tangannya menyentuh kepala penisku dan mengusap-usapnya. Aku terhenyak. Lalu aku arahkan penisku ke belahan payudaranya. Kuminta dia meremas penisku dengan kedua payudaranya, aku gesek-gesekkan penisku di antara kedua payudaranya. Hangat dan nyaman rasanya. Kemudian aku duduk bersandar, dan Julia kutarik untuk bangun, lalu aku menatap wajahnya, dia rupanya mengerti dan mulailah lidahnya terjulur menjilati kepala penisku. Aku sungguh merasa nikmat, apalagi ketika julia mulai memasukkan penisku ke mulutnya dan menghisapnya. Dia menjilati batang penis mulai dari pangkal hingga ke ujung kepala sebelum akhirnya dia mengisap penisku dan mengulumnya. Ahh, aku serasa melayang, dan tak lama kemudian aku sudah tak tahan, aku pun memuntahkan maniku dimulutnya dengan rasa nikmat yang bukan kepalang,

Malam itu kami tidur berpelukan. Dan keesokan harinya, kami melakukan oral seks dengan gaya 69. Dan sesuai perjanjian, aku tak boleh memasukkan penisku ke vaginanya. Aku jadi mengkhayal, kalau begini saja sudah begitu nikmat bagaimana jadinya kalau nanti dimasukkan? Tetapi aku dan Julia sudah sepakat untuk saling memuaskan dengan tanpa penetrasi penis. Itupun sudah sangat nikmat, dan aku tak beresiko menghamili atau merusak keperawanan anak orang.

Tamat




sumber
More about → Cerita Dewasa | Chating Berbuah Nikmat

Cerita Dewasa | Dokter Kandungan Yang Perkasa

Posted by dedot on Tuesday, 18 June 2013

Malam itu terlihat Dewi sedang berada disebuah tempat praktek Dokter Kandungan, setelah kejadian-kejadian yang dialaminya dengan Andi dan Sugito. Dewi takut suatu saat nanti dirinya hamil karena sperma laki-laki lain, dan kalau nanti ia sampai hamil pasti suaminya akan mengetahui perbuatannya bersenggama dengan orang lain.

Hari ini kebetulan suaminya sedang pergi keluar kota selama 2minggu, Dewi yang memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk mendatangi dokter kandungan, akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat praktek dokter kandungan, ia ingin cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan alat kontrasepsi apa yang cocok untuk dia, karena Dewi ingin segera merasakan kepuasan bersenggama kembali, hampir lebih dari 2 minggu, Dewi tidak dapat menikmati sodokan-sodokan kontol-
kontol perkasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, karena ia takut akan hamil.

“bu Dewi,”

Dewi mendengar namanya dipanggil.

“Yach, betul,” Dewi menjawab, dan menengok kearah siempunya suara yang ternyata suster di tempat praktek ini.

“Sekarang giliran ibu,” kata suster tersebut, “mari ikut saya, bu.!!”

“Oh..yach,” jawab Dewi, sambil berdiri dan mengikuti suster itu menuju keruangan praktek.

Dewi baru menyadari tempat praktek dokter kandungan yang tadi lumayan penuh dengan pasien, sekarang telah kosong, Dewi menyadari bahwa ia adalah pasien terakhir.

“Dok, ini ibu Dewi pasien terakhir kita malam ini,” Kata suster itu kepada lelaki yang berada didalam ruangan praktek itu

Dalam hati Dewi membatin,”masih muda nih dokter, dan wajahnya lumayan ganteng,” Dewi memperkirakan dokter ini seumuran dia.

“Malam, dok,” Dewi menyapa si dokter.

“Malam, juga Bu! Silahkan duduk bu! Apa yang bisa saya bantu??,” si dokter menjawab sambil bertanya dan mempersilahkan Dewi duduk.

Sebelum sempat Dewi menjawab pertanyaan sang dokter, ia mendengar si suster berkata,” Dok, ibu Dewikan pasien terakhir, dan saya kebetulan ada keperluan keluarga, boleh saya pulang lebih dulu,”

“Oh..ok, “ jawab si dokter sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Sebentar yach bu,” kata si dokter ke Dewi, lalu dokter itu keluar dari ruangan mengikuti si suster.

Tak lama kemudian dokter itu kembali dan berkata kepada Dewi,” maaf yach bu, soalnya saya harus mengunci pintu depan, kalau tidak nanti ada orang dating lagi untuk berobat atau berkonsultasi, padahal ibu Dewi-kan pasien saya terakhir apalagi suster saya sudah pulang”

“Oh..gak apa-apa kok,” balas Dewi

“Nach, sekarang apa keluhan ibu, mudah-mudahan saya bisa bantu,” tanya si dokter.

“Begini dok, saya ingin memakai alat kontrasepsi, tapi saya tidak mau kalau suami saya itu memekai kondom, jadi kira-kira alat kontrasepsi apa yang bagus untuk saya,” Dewi menjelaskan maksud tujuannya datang ketempat praktek ini.

“Oh itu, memang ibu dan suami sudah tidak berkeinginan untuk mempunyai anak lagi, ngomong-ngomong sudah punya berapa anak?” tanya sang dokter lagi.

“yach begitulah, saat ini kami mempunyai satu anak, “ jawab Dewi sedikit berbohong, karena tidak mungkin ia menjelaskan kedokter bahwa ia ingin lebih puas dalam menikmati 
kontol-kontol perkasa tanpa takut akan hamil.

“Baru satu?? Memang tidak berkeinginan nambah, bu??” si dokter memastikan.

“Hmmhh…betul,” Dewi menjawab sambil tersenyum.

“Lalu ibu mau yang sementara atau selamanya,” tanya sidokter.

“maksudnya??” Dewi balik bertanya.

“Begini loh, Bu!. Kalau sementara saya sarankan ibu untuk menggunakan spiral, tapi kalau ibu dan suami ingin untuk selamanya tidak mempunyai anak lagi, yach! Saya menyarankan ibu untuk disteril, maksud saya saluran indung telur ibu harus saya tutup rapat, jadi kalau ibu berhubungan dengan suami, sperma suami ibu tidak dapat lagi menerobos kesaluran indung telur ibu, dengan begitu saya jamin tidak ada satupun indung telur ibu yang dapat dibuahi oleh sperma suami ibu,” jelas sang dokter panjang lebar.

“Ooohhh…begitu,” gumam Dewi,” Kalau gitu saya pilih yang sementara saja, siapa tahu nanti kita ingin mempunyai anak”

“Ibu mengambil keputusan yang tepat, nach sekarang ibu silahkan berbaring disana, saya akan mempersiapkan peralatannya,” kata si dokter sambil menunjuk kearah ranjang.

“Bajunya dan CDnya tolong dilepas, Bu!!, terus ibu kenakan ini” lanjut sidokter sambil memberikan jubah berwarna biru muda.

“wah, bu!! terbalik pakai jubahnya,” dokter itu berkata sambil tersenyum saat melihat Dewi mengenakan jubah itu dengan bagian yang terbukanya berada didepan.

“Bagian yang terbukanya itu untuk dibelakang, kalau ibu pakai seperti itu nanti saya gak akan selesai-selesai memasang alat kontrasepsinya, karena mata saya akan melihat kedada ibu terus,” lanjut sidokter sambil bercanda ke Dewi.

“Ohhh…he..he..dokter bisa aja,” Dewi tersipu malu mendengar guyonan si dokter, sambil membetulkan jubah tersebut, kemudian iapun berbaring diranjang.

Dewi bingung melihat ranjang tersebut karena panjang ranjang tersebut tidak sepanjang ranjang-ranjang yang biasa ada ditempat-tempat praktek dokter, panjang ranjang ini hanya sampai sebatas pantatnya saja, sehingga kedua kakinya terjuntai kebawah, Dewipun melihat adanya keanehan dengan ranjang ini, dimana disamping kiri dan kanan kedua kakinya ada bantalan cekung dan letaknya lebih tinggi dari ranjangnya.

Setelah selesaimempersiapkan peralatannya, sang dokter menghampiri ranjang tersebut, melihat posisi rebahan Dewi diatas ranjang, dokter itupun tersenyum simpul,

“Ibu, baru pertama kali yach datang kedokter kandungan??,” tanya sidokter tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban Dewi, sang dokterpun mulai mengangkat kaki Dewi satu persatu dan menempatkan dibantalan cekung yang berada disamping kiri kanan kaki Dewi itu, perbuatan sidokter membuat Dewi terhenyak, Dewi tahu dengan posisinya dimana kedua kakinya terangkat dan terbuka lebar ini, kemaluannya akan Nampak jelas didepan sidokter, mukanyapun menjadi merah karena menahan malu, melihat Dewi yang tersipu-sipu malu dan wajahnya menjadi merah, sidokter hanya tersimpul dan diapun merasa yakin sekali bahwa ini adalah kunjungan yang pertama Dewi ke dokter kandungan.

“Maaf, yach, Bu,” sidokter berkata saat jari jemarinya mulai menyentuh bibir vagina Dewi.

“Hhmmmhh….,” Dewi hanya bisa mengangguk, karena menahan malu dan perasaan yang aneh saat jari-jari sidokter menyentuh bibir vaginanya.

Kedua jari tangan kiri sidokter mencoba untuk sedikit membuka lubang vagina Dewi dari sebelah atas, sehingga kelentit Dewi tersentuh oleh telapak tangan sidokter, sementara tangan kanan sidokter mencoba untuk memasukkan peralatan hampir seperti corong, agak lumayan lama sidokter berkutat untuk memasukkan alat itu kelubang vagina Dewi, sementara Dewi merasakan geli yang aneh dan nikmat saat kelentitnya tergesek-gesek oleh tangan sidokter, akibatnya gelora birahi Dewi mulai bangkit, memeknya mulai basah.

“Ouugghhh…..ssshhhh,” Dewi menjerit lirih saat merasakan alat yang seperti corong berdiameter 3cm terbenam di dalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat sedikit, kedua tangannya mencengkram pinggiran ranjang dengan erat.

“Maaf..bu.!! sakit…!! Tahan sebentar yach, saya akan mulai memasang spiralnya,” kata sidokter.

Si dokter merasa heran dengan kondisi lubang vagina Dewi yang masih sempit ini, dalam hatinya ia berkata, “gila nich ibu, udah keluar satu anak, tapi masih sempit begini, sepertinya juga jarang dipakai oleh suaminya,”, sambil tangannya memijat-mijat pelan kedua belah bibir vagina Dewi dengan tujuan untuk membuat rileks otot-otot vagina Dewi, saat ia sedang memijat-mijat itu dari corong kacanya itu ia melihat lubang vagina Dewi yang berwarna merah muda itu berkedut-kedut, belum pernah selama ia praktek melhat kejadian ini, karena sudah berpengalaman ia mengetahui bahwa tebakannya itu betul, memek Dewi jarang dipakai oleh suaminya, karena hanya dengan alat yang teronggok diam saja memek Dewi sudah basah.

“Hhhhmmmm…sssshhhh….hhhmmmm…..ssshhhh..” Dewi merintih lirih menikmati pijatan-pijatan lembut dibibir vaginanya dan merasakan sumpalan alat dilubang senggamanya.

Mendengar lirihan Dewi, sidokter semakin yakin dengan tebakannya itu, dalam hatinya membatin,”kalau kuentot mau tidak yach ini ibu???, atau malah nanti dia marah??..”

Setelah melihat cengkraman dinding vagina Dewi dialatnya mulai mengendur, sidokterpun mulai mengambil spiral berbentuk T dan penjepitnya, lalu melalui corong tadi ia mulai memasukkan spiral tersebut menggunakan penjepit, karena corong itu terbuat dari kaca ia bisa melihat keadaan didalam lubang vagina Dewi, setelah tepat disasaran, iapun sedikit menekan penjepitnya kemudian ia melepaskan jepitan di spiral tersebut dan menarik keluar jepitannya, sambil memegangi kedua bibir vagina Dewi, sidokter memastikan spiral tersebut terpasang dengan benar, kemudian dengan perlahan-lahan corong itu ia tarik keluar dari lubang vagina Dewi, gesekan yang ditimbulkannya membuat Dewi mengerang lirih.


Setelah terlepas, sidokter kembali memijat-mijat vagina Dewi, sebetulnya pijatan-pijatan itu tidak perlu dilakukan, dan belum pernah ia lakukan selama ia praktek, saat ini ia lakukan karena ia terangsang dengan bentuk vagina Dewi, dalam hatinya ia juga merasa heran kenapa saat ini ia terangsang ingin melakukan persetubuhan dengan pasiennya. Dewi sendiri yang dari tadi birahinya sudah bergejolak, merasakan pijatan-pijatan lembut yang saat ini sedang dilakukan oleh sang dokter semakin membuat birahinya membara, erangan-erangannya semakin sering terdengar, tubuhnyapun menggelinjang-gelinjang karena geli dan nikmat.

“Oh..baru pijatan tangannya saja sudah membuatku melayang-layang, apalagi kalau dia sodok aku dengan kontolnya, Oh gila betul rangsangan ini,” Dewi berkata dalam hatinya.

Tangan Dewi yang tadi sedang mencengkram ranjang mulai beralih kepayudaranya sendiri, dari balik jubahnya iapun mulai meremas-remas kedua bukit kembarnya, merasa kurang puas karena terhalang oleh BH dan jubah yang masih menutupi tubuhnya, Dewi kemudian melucuti semuanya sehingga sekarang Dewi telanjang bulat didepan sang dokter, tangannya kembali meremas-remas kedua bukit kembarnya itu, mulutnya mendesis-desis menandakan Dewi sedang menikmati semua itu.

Sang Dokter yang melihat aksi Dewi melucuti jubah dan Bhnya serta aksi remasan tangan Dewi dikedua bukit kembarnya itu tersenyum simpul, “nampaknya ia mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,”, lalu tanpa menghentikan pijatannya, ia pun mulai menciumi kelentit Dewi yang mulai terlihat dan mengeras, tidak hanya diciumi saja, tapi ia jilati dan hisap-hisap kelentit Dewi yang membuat Dewi semakin menggelinjang merasakan kenikmatan permainan lidah sidokter, aksi sidokter semakin menggila, jari tengah salah satu tangan yang sedang memijat-mijat itu mulai menerobos lubang kenikmatan Dewi, dengan gerakan perlahan-lahan sidokter mulai mengeluar-masukkan jari tangannya itu, akibatnya lubang vagina Dewi semakin basah, erangan-erangan Dewipun semakin sering terdengar. Pantatnya semakin sering terangkat seolah menyambut sodokan jari tangan sidokter, kepalanya bergoyang kekiri kekanan, tubuhnya kadang-kadang melenting, Dewi betul-betul menikmati serangan-serangan sang dokter dikemaluannya.

“Ouughhhh….dddoookkk….eenaaaakkk…aakhhuuu…mau..kel luaarr…ssshhh…aagghhhh..”Dewi merintih-rintih kenikmatan.

Ssssrr……ssssrrrr….ssssrrrr…… memek Dewi memuntahkan lahar kenikmatannya.

Tubuh Dewi mengejang, sang dokter merasakan hangatnya air kenikmatan Dewi yang membasahi jari tangannya.

“Enak, Bu!!,” tanya sidokter.

“Iyaachh…”Dewi menjawab dengan nafas yang masih tersengal-sengal, matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja ia rengkuh.

Tanpa buang waktu lebih lama lagi, sang dokterpun mulai melucuti seluruh pakaiannya, sehingga sekarang iapun telanjang bulat, Nampak kontolnya sudah berdiri dengan tegak, ukurannya lumayan besar dan panjang, diapun mulai mengelus-eluskan kontolnya dibibir vagina Dewi, membuat Dewi menggelinjang, dengan pelan-pelan sang dokterpun menyelipkan kepala kontolnya di lubang memek Dewi, setelah merasa tepat disasaran sang dokterpun mulai melesakkan kontolnya kedalam lubang memek Dewi, setahap demi setahap.

Sleeepp….bleeessss….bleessss…..
Penis sang dokter mulai terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan Dewi, Dewi yang merasakan penis dokter itu mulai memasuki lubang senggamanya, mendesis lirih. Hatinya membatin,”lumayan besar juga kontolnya, tapi tidak sebesar punyanya pak Sugito”.

“Ssshhh….aaaaghhhh..dook…kontolmu besar juga…. sssshhhh….puaskan aku dengan kontolmu ssshhhh…”desis Dewi.

Dengan perlahan-lahan Sang dokter mulai mengeluar-masukkan kontolnya didalam lubang senggama Dewi, kedua tangannya berpegangan dipaha Dewi, lama-lama gerakan maju-mundur sang dokter semakin cepat, keringatpun mulai mengalir dikedua tubuh mereka, udara dingin didalam ruangan praktek karena AC tidak menghalangi keluarnya keringat mereka. Erangan Dewi dan sang dokter semakin terdengar, lenguhan-lenguhan nikmat keluar dari kedua mulut mereka.

“Ouughhh…dookkk…teeruusss…ssooddokkk .memekkuuuu…dengaaannn kkonttolmu..ituuu… aaaggghhhh…” Dewi mengerang kenikmatan menikmati sodokan 
kontol sang dokter di lubang senggamanya.

“Hhhhmmmm…aaaaghhh…memekmuuu…benaaarr-benaar..sseeemmpitt enaaakkk… oouughhh … koontooolllkuuu…teerjeppiitt…bbeetulll… “ Sang Dokterpun melenguh keenakan merasakan jepitan dinding vagina Dewi dibatang kontolnya..

“Teekkaaannn…lebih daaalllaamm…dookk.. yaaahh..begituu..ssshhhhh…oouughhh…,” rintih Dewi meminta sang dokter untuk menekan lebih dalam, yang dituruti oleh sang dokter, dengan hentakan-hentakan yang lebih dalam, hingga kontolnya terbenam sampai pangkalnya saat sang dokter mendorong masuk kontolnya.

Tak lama kemudian nampak gerakan sang dokter bertambah cepat dan mulai tak beraturan, sementara itu tubuh Dewipun semakin sering terlihat melenting dan pantatnya semakin sering terangkat berbarengan dengan sodokan 
kontol sang dokter, lenguhan dan erangan mereka bertambah kencang terdengar dan saling bersahutan, nampaknya kedua insan ini akan merengkuh puncak kenikmatan persetubuhan mereka.

“Ouughhh…doookkk…aaaakkkkuuu…kkeeelluuarrr,” Dewi mengerang tubuhnya melenting.

“Akkkhhuuu…juuggaaa…mmaaauuu….ooouugghhhh..” sang dokterpun melenguh, dan menekan dalam-dalam kontolnya didalam lubang senggama Dewi, lalu terdiam.

Creeetttt…..ssssrrrr…..ccrreeeettt…..ssssrrrr…..

Kedua kemaluan mereka akhirnya memuntahkan lahar kenikmatan berbarengan, sand dokter merasakan batang kontolnya tersiram oleh hangatnya lendir kenikmatan Dewi dan ia juga merasakan dinding vagina Dewi berkedut-kedut meremas-remas batang kontolnya, Dewi sendiri merasakan dinding rahimnya tersemprot oleh cairan hangat sperma sang dokter dan Dewi sendiri merasakan pada dinding vaginanya batang 
kontol sang dokter berdenyut-denyut.

Kemudian sang dokter mencabut batang kontolnya dari jepitan vagina Dewi setelah ia merasakan remasan-remasan dinding vagina Dewi berhenti dan kontolnya mulai mengecil, saat kontolnya tercabut dari lubang kenikmatan Dewi, terlihat olehnya cairan spermanya bercampur dengan lendir kenikmatan Dewi mulai mengalir perlahan dan menetes jatuh keatas lantai.

Setelah nafas mereka kembali normal, mereka mengenakan pakaian mereka kembali, kemudian sang dokter memberi tahu Dewi bahwa spiral yang ia pasang itu bisa bertahan untuk 5 tahun, tetapi alangkah bagusnya setiap 3-6 bulan sekali harus diperiksa, untuk memastikan letaknya tidak berubah atau lebih parahnya terlepas. Dewi mengangguk tanda mengerti dalam hati Dewi berkata ,”pasti aku akan balik lagi, untuk menikmati sodokan-sodokan kontolmu lagi,”

Sebelum pulang Dewi bertanya berapa biaya yang harus dibayar olehnya, yang dijawab oleh dokter itu dengan senyuman dan kecupan ringan dibibir Dewi, gratis!!! bisiknya

Dewipun pulang dengan tersenyum simpul, dalam hatinya ia membatin bertambah satu lagi koleksi 
kontol yang bisa membuat puasku, yang bisa menghilangkan dahaga batinku. Dan sekarang ia tidak akan takut hamil bila melakukan persetubuhan dengan siapapun.

Tamat




sumber
More about → Cerita Dewasa | Dokter Kandungan Yang Perkasa

Cerita Dewasa | Gairah Cinta Sisakan Luka

Posted by dedot on Thursday, 13 June 2013

"In vijftien minuten, zullen wij bij Parijs aankomen.."
Merinding bulu kuduk saya ketika tour guide mengumumkan dalam bahasa Belanda bahwa bus yang saya tumpangi akan tiba di tujuan dalam waktu 15 menit. Keletihan tubuh karena 8 jam duduk di bus dikalahkan oleh keinginan melihat kota yang begitu diagung-agungkan oleh para pecinta yang romantis: Paris!

Sebelumnya, sekalipun di dalam mimpi, saya tidak pernah membayangkan akan berada di sini. Krisis ekonomi di Indonesia yang meluluh-lantakkan karir dan kehidupan saya, ternyata membelokkan alur perjalanan hidup saya.

Saya mengalihkan pandangan saya keluar, terlihat beberapa pesawat di Charles de Gaulle airport. Tanpa saya sadari, mobil yang lalu lalang di highway A1 yang berawal dari Belgia ini bertambah banyak. Perhatian saya segera tertuju ke apartemen-apartemen yang kini berserakan di pinggiran highway. Tidak terlihat adanya perumahan, ciri khas kota metropolitan.

Steve, William, dan Agung teman kuliah saya yang berasal dari Singapore, Malaysia dan Indonesia juga terdiam menunggu tibanya bus tersebut di hotel yang akan didiami selama empat malam. Kemacetan di jalan raya semakin bertambah, apalagi ketika bus keluar dari highway dan menuju jalanan yang lebih kecil. Dengan tidak sabaran saya memperhatikan jam tangan saya yang sudah menunjukkan pukul 16:45. Di ufuk barat, mentari musim dingin mulai menyembunyikan dirinya.

"Come on, lets go out for nice dinner.." Steve yang sekamar dengan saya mengajak makan malam. Memang, perut saya yang kosong sudah meminta sesuatu buat dicerna. Siraman air hangat sewaktu mandi menghilangkan keletihan tubuh saya dan mengantinya dengan perasaan lapar.

Berjalan kaki, kami menyusuri kota Paris. Kota ini begitu istimewa, keramaian dan kemacetan jalannya mengingatkan saya pada London. Tetapi design bangunan dengan ukiran dan patung-patungnya sangat mencolok dan berbeda. Hampir setiap bangunan mempunyai ciri khasnya masing-masing dan begitu indah.

Sebuah Chinese restaurant di Boulevard Montmarte menarik minat kami. Perut-perut yang keroncongan akhirnya berteriak kegirangan ketika nasi dan beberapa lauk menganjalnya. Memang perut Asia kami lebih menikmati nasi dibandingkan roti.

Dengan tambahan energy dari makanan, perjalanan menyusuri kota Paris dilanjutkan kembali. Di sepanjang jalan Boulevard Montmarte ini hadir toko yang banyak menjual parfum, pakaian dan makanan. Louis Vuitton, Giorgio Armani, Christian Dior, dsbnya seakan-akan berlomba memamerkan produk-produk terbarunya.

"Eh, Hard Rock Caf Paris!" seru William tiba-tiba, "Lets have some drinks."
Segelas Southern Comfort memberikan kehangatan kepada tubuh saya. Duduk berempat di caf yang masih sepi, kami membicarakan keindahan kota yang menakjubkan ini.

Selesai minum, kami berjalan keluar melalui toko yang menjual sourvenir Hard Rock. Tertarik oleh kaos hitam special edition caf tsb, saya mengantri di belakang dua orang cewek yang lumayan manis. Perhatian saya segera tertuju ke mereka ketika mereka mengobrol. Mereka menggunakan bahasa Indonesia! Aneh rasanya mendengar bahasa tersebut di tempat yang begitu jauh.

"Hallo, dari Indonesia ya?" sapa saya ramah.
Mata kedua gadis di depan saya terbelalak, kaget.
"Iiiyaa.." jawab gadis yang berdiri di depan saya. Tubuhnya yang kecil tertutup oleh jaket tebal berwarna hitam. Rambutnya yang pendek dicat merah dan matanya yang bulat terlihat jernih.

Perkenalan pun berlanjut, gadis tersebut bernama Diana dan temannya bernama Elisabeth. Sungguh enak mengobrol menggunakan bahasa yang sudah lebih dari satu tahun tidak pernah saya pakai. Alangkah sayangnya, pertemuan sekitar 10 menit tersebut harus berakhir ketika mereka berjalan meninggalkan caf tersebut bersama teman-teman mereka. Entah karena suasana Paris yang romantis, atau kerinduan akan cewek setanah air, atau karena mata Diana yang bulat dan jernih, jiwa saya seakan-akan terbang bersama mereka. Saya termenung melihat mereka menghilang di keramaian kota.

Bodoh! Goblok! Kenapa tidak meminta nomor telepon? Atau e-mail? Penyesalan datang melingkupi diri saya sesudah pertemuan tersebut. Perasaan menyesal ini semakin menggelora ketika keesokan harinya saya mengunjungi menara Eiffel. Seandainya saja saya bisa menikmati keromantisan kota Paris bersama Diana. Seandainya..

Sang Pencipta ternyata mengasihani jiwa yang penat menahan dahaga kasih sayang ini. Di bawah Eiffel tower Sang Pencipta menunjukkan kekuasaannya. Diana bersama temannya berdiri di salah satu kaki Eiffel Tower, menunggu kesempatan untuk naik ke menara tersebut. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Segera saya membeli empat tiket yang berharga total 180 franc dan ikutan mengantri.
"Diana.." panggil saya, "Ketemu lagi!"
"Ehh.. kamu.." dia kaget. Tetapi dari sinar matanya saya tahu kalau dia juga merasa senang. Dan ini membuat jiwa saya melayang-layang.

Pembicaraan akrab berlanjut kembali. Diana dan teman-temannya kuliah perhotelan di Switzerland. Dia sudah lebih dari 3 tahun di sana dan ini adalah tahun terakhirnya. Teman-temannya berasal dari sekolah yang sama, cuma beberapa dari mereka masih berada di tingkat pertama atau kedua.

Saya berusaha selalu berdekatan dengan Diana, dan mengenalnya lebih jauh. Jangan mau kehilangan dia lagi.. bisik hati saya. Di lantai dua Eiffel Tower kami berfoto bersama. Saat mempunyai kesempatan berdua, saya berbisik di telinganya, "Semalaman saya memikirkan kamu." Matanya yang bening menatap saya dan dia berbisik lirih, "Saya juga." Ingin rasanya saya berteriak dan melompat kegirangan.

"On the romantic Seine's river bank, the lovers go hand by hand."
Perjalanan menggunakan kapal menyusuri sungai Seine melewati 22 jembatan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Dari kapal yang kami tumpangi, kami bisa melihat pasangan yang sedang mabuk cinta bergandengan tangan dan berciuman di tepi sungai yang membelah kota Paris tersebut.

Bulu kuduk saya merinding ketika kami melewati gereja Notre Dame yang terkenal dengan cerita The Hunchback of Notre Dame-nya. Bangunan yang persis sama dengan bangunan di film kartun yang saya tonton. Di sebelah saya Diana terlihat termenung, entah apa yang sedang dipikirkan.

"When you pass this oldest bridge in Paris, close your eyes and make your wish. It will come true."
Saya menutup mata saya dan diam-diam menyatakan harapan saya. Diana juga menutup matanya dan menyatakan harapannya. Seandainya saja saya tahu apa yang dia minta, akan saya penuhi apapun keinginannya.

Melalui jalan mendaki menuju gereja Sacre Coeur, saya mencoba memegang tangan Diana yang tertutup sarung tangan merahnya. Dia tidak menolak! Di sebelah saya Steve terlihat akrab dengan Elisabeth. Mereka bercanda dengan mesranya. Memang, di kota ini cinta mudah sekali bersemi.

Jam baru menunjukkan pukul 17:30, namun mentari sudah bersembunyi di peraduannya. Dari halaman gereja berwarna putih yang terletak di atas bukit ini, saya kehilangan kata-kata saya. Di depan saya terpampang kota Paris dengan lampu-lampunya yang berwarna-warni, begitu menakjubkan. Dari kejauhan terlihat Eiffel Tower yang terang benderang. Saya memberanikan diri untuk memeluk tubuh Diana. Pelukan yang tidak saya lepaskan sampai kami kembali ke kamar hotel mereka.

Saya berbaring di kasur sambil melanjutkan pelukan saya. Lengan Diana melingkari leher saya dan kepalanya menyender di dada saya. Di kasur sebelah saya Steve dan Elisabeth sedang bercanda mesra.

Kekuatan cinta saya membuat saya berani mencium pipinya, tanpa mempedulikan Steve dan Elisabeth. Diana cuma tersenyum misterius. Ciuman saya kemudian berlanjut ke bibirnya yang merah merekah. Terasa bibirnya yang sedikit kering karena dinginnya angin musim dingin.

Kegilaan kami bertambah ketika Elisabeth memadamkan lampu kamar. Dari sinar yang masuk lewat jendela, saya bisa melihat mata Diana yang sendu. Seperti magnet, bibir saya kembali tertarik ke bibirnya, saling berpagutan dengan mesranya. Perlahan Diana menarik selimut menutupi tubuhnya. Saya menganggap tindakan dia sebagai undangan untuk melakukan hal yang lebih jauh. Saya ikutan menyusup ke dalam selimut.

Jari-jari tangan saya mulai bergerilya menyusuri sepasang gunung Diana yang masih tertutup sweater. Usaha mencari puncak gunung tersebut agak terganjal oleh tebalnya sweater dan bra yang masih dikenakannya. Namun kekenyalan gunung tersebut membuat tangan saya betah bermain di sana, meremas dan meremas.

Kemudian tangan saya menyusup ke balik sweaternya dan menyusuri kulit perutnya yang mulus menuju dadanya. Dengan lincah jari tangan saya menyusup ke branya. Ketika ujung gunung kembarnya tersentuh, tanpa ampun jari-jari tangan saya bermain di sana.

Jari tangan Diana ternyata tidak tinggal diam. Kedua tangannya beralih ke ikat pinggang saya dan berjuang melepasnya. Jari tangannya yang cekatan berhasil melepas ikat pinggang saya diikuti celana jeans dan celana dalam saya. Ketika terlepas, saya menendang celana tersebut keluar. Batang kemaluan saya yang terkekang berjam-jam segera berontak menunjukkan kekuatannya.

Belaian tangan Diana membuat batang tersebut mencapai kekerasan dan ukuran maksimumnya. Tidak sabar, Diana membuka sendiri celana jeans dan celana dalamnya. Sesudah itu dia berbaring membelakangi saya, sepasang pinggul montok dan mulus menekan batang kemaluan saya, menan- tang dia untuk bertindak lebih lanjut.

Dengan tubuh masih tertutup selimut, jari tangan saya menuju daerah kemaluannya. Terasa oleh tangan saya rambut yang keras dan pendek. Rupanya rambut tersebut dicukur! Jari tangan saya akhirnya bermain di daerah klirotisnya, memutar dan kadang menggosok dengan cepat. Sekali-kali jari tangan saya masuk ke dalam liang kewanitaannya yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya.

Mata saya beralih sebentar ke kasur sebelah. Steve dan Elisabeth rupanya tidak mau kalah, terlihat tubuh mereka yang juga tertutup selimut saling menindih.

Akhirnya saya menggerakkan batang kemaluan saya yang sudah tidak sabar menuju rongga fovaritnya. Dari belakang saya mencoba memasukkan batang tersebut, lumayan susah. Dengan tuntunan tangan Diana, akhirnya batang tersebut berhasil menyusuri goa kewanitaannya yang sudah basah kuyub. Cengkraman otot liang kewanitaan Diana pada batang kemaluan saya membuat saya memejamkan mata. Saya menggerakkan batang kemaluan saya, keluar masuk, keluar masuk. Jari tangan saya masih bermain di daerah klitorisnya.
"Ahh.." terdengar desahan Steve. Rupanya dia sudah mencapai pulau kenikmatan bersama Elisabeth.

Sekitar 5 menit kemudian, Diana menjerit histeris tanpa mempedulikan kehadiran Steve dan Elisabeth di ruangan tersebut. Satu badai kenikmatan sudah dilalui.
"Kamu di atas ya.." bisik Diana dengan nafas terengah-engah.
Saya mengambil posisi di atas, Diana dan kembali memasukkan batang kesayangan saya. Kegiatan keluar masuk yang tidak pernah membosankan tersebut kembali berlanjut. Goyangan pinggul Diana menambah kenikmatan yang saya rasakan. Tanpa kami sadari, selimut yang menutupi tubuh kami terbuka memamerkan kekekaran tubuh saya dan sepasang buah dada Diana yang menjulang indah. Saya membungkukkan tubuh berusaha menjangkau puncak gunung tersebut dengan lidah saya. Karena tubuh saya yang jauh lebih tinggi, saya tidak berhasil melakukannya.

Tiba-tiba terasa ada kepala di samping saya. Saya tercegang, rupanya Elisabeth sudah berdiri di sebelah tubuh Diana. Matanya yang sayu menatap wajah Diana. Perlahan dia mendorong tubuh saya ke atas dan dia menggerakkan mulutnya yang munggil ke gunung kembar Diana. Dia menjulurkan lidahnya dan bermain di sana. Diana membuka matanya yang tersenyum. Dia membelai rambut Elisabeth!

Gila! Kata pertama yang melintas di kepala saya.
Peduli Amat! Kata kedua yang membuat saya memutuskan untuk jalan terus.

Saya memperbaiki posisi saya, tangan saya menahan sepasang kaki Diana yang tertekuk membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhnya dan dengan posisi berlutut saya memasukkan batang kemaluan saya setelah sebelumnya menganjal pinggulnya dengan bantal.

Selanjutnya hujaman batang kemaluan saya semakin ganas, sementara lidah Elisabeth masih bermain di dada Diana. Tidak terlukiskan dengan kata teriakan histeris Diana saat itu. Teriakan Diana, pemandangan lidah Elisabeth yang sedang bermain di buah dadanya Diana, dan perasaan sayang yang menggebu-gebu membuat saya tidak bisa bertahan lama walaupun segala teknik menahan ejakulasi sudah saya keluarkan. Akhirnya batang kemaluan saya menumpahkan cairan putihnya di dalam tubuh Diana.

Tetesan air mata mengantar perpisahan kami berpisah di tanggal 30 Desember 2000. Saya kembali ke Amsterdam dan dia kembali ke Swiss. Sampai saat ini, harapan saya saat melewati jembatan tertua di kota Paris tidak terpenuhi. Sebenarnya harapan saya adalah, "Hidup berbahagia bersama Diana selamanya!"

"Saya tidak pernah bisa mempercayai lelaki kembali. Tiga tahun lalu di sini, Paris, saya menyerahkan milik saya yang paling berharga kepada pria yang sangat saya sayangi. Ternyata dia penipu, dia sudah beristeri. Luka tersebut meninggalkan bekas yang sangat dalam dan tidak ada satu lelakipun yang bisa menyembuhkannya, saya berbahagia bisa bertemu dengan kamu."

"Diana.. Diana.. mengapa kamu tidak mau memberikan kesempatan kepada saya? Akan saya buktikan bahwa tidak semua lelaki itu bangsat! Cinta memang mengakibatkan luka, namun luka tersebut hanya bisa disembuhkan kembali oleh cinta." Cuma itulah yang bisa ucapkan ketika membaca mail terakhirnya.


TAMAT





sumber
More about → Cerita Dewasa | Gairah Cinta Sisakan Luka